Selama bertahun-tahun
Bill Gates
berkeliling dunia untuk mengenalkan internet ke seluruh negara. Di
tengah petualangan itulah, Gates mengalami momen yang membuat hatinya
merasa sangat terenyuh dan memunculkan sosok dermawan dalam dirinya.
"Apa
yang paling penting antara konektivitas (melalui jarangan internet)
atau vaksin malaria? Jika Anda pikir konektivitas adalah kunci utama,
itu hebat. Tapi tidak begitu dengan saya," katanya seperti dikutip dari
Business Insider, Kamis (22/1/2015).
Perubahan visi hidupnya terjadi saat dia mencoba mengenalkan komputer ke beberapa kawasan di Afrika. Namun
orang terkaya di dunia ini segera menyadari betapa konyolnya ide mengenalkan komputer saat dia melihat betapa buruknya kehidupan di sana pada 1997.
Kala
itu, di tengah kunjungannya di Afrika, Gates mendatangi sebuah rumah
sakit tempat para penderita tuberkulosis dirawat. Dikisahkan sang istri,
Melinda Gates, kala itu sang suami meneleponnya dengan sedikit terisak.
Sambil terbata, Gates berusaha menceritakan apa yang dialaminya.
"Itu
untuk pertama kalinya dia (Bill Gates) datang mengunjungi klinik
tuberkulosis. Dia merasa sangat terenyuh dan terisak menceritakan betapa
mengerikan rasanya harus menderita penyakit di sana," kisah Melinda.
Dengan
terbata, Gates terus-menerus berkata bahwa masuk ke rumah sakit itu
bagaikan merasakan hukuman mati. Itulah momen yang mengubah Gates
menjadi seorang dermawan dan terus-menerus berusaha mengentaskan
kemiskinan sebisa mungkin.
Setelah kejadian itu pula, dia
memutuskan untuk mendonasikan sebagian uangnya pada rumah sakit
tersebut. Bagi Gates, dia akan berusaha membantu para pasien penderita
malaria dan tuberkulosis di seluruh dunia.
"Meski masih percaya
pada dunia digital, tapi itu bukan lagi berada di prioritas saya. Itu
yang kini terlihat jelas di hadapan saya," tandasnya.