Raeni (21), seorang anak tukang becak yang mendapat IPK tertinggi di
Universitas Negeri Semarang yaitu 3,96 lolos seleksi Beasiswa Presiden
RI. Rencananya, Raeni akan mencoba daftar di London School of Economics
and Political Science di Inggris.
"Saya mau ambil gelar magisternya di LSE," ujarnya saat ditanya, di PMPP, IPSC, Sentul, Bogor, Rabu (15/10).
Saat
ini, Raeni tengah melakukan persiapan skor IELTS dan TOEFLnya untuk
bisa mendapatkan Letter of Acceptance (LoA) dari universitas terbaik ke
25 di dunia. Menurut Raeni, dulu saat kuliah pernah mencoba tes TOEFL
dan skornya saat itu hanya mencapai 500.
Namun yang dibutuhkan
untuk lolos di LSE lebih tinggi dari itu. "Saya lihat, beberapa kali
buka beritanya, TOEFL dan IELTSnya yang diminta tinggi banget. Tapi skor
itu saya tempel di kamar, biar saya ingat, buat acuan saya setiap kali
lihat tempelan itu, Insya Allah bisa, saya bisa mengejar itu," ungkap
Raeni.
Anak bungsu dari dua bersaudara ini pun membeberkan
tipsnya saat mendapat IPK tertinggi di kampusnya. Raeni mengatakan
setiap harinya dia selalu belajar, belajar adalah bagian dari
rutinitasnya sehari-hari.
"Belajar itu kayak kegiatan saya sehari-hari," ujarnya.
Kemudian,
doa orang tua juga menjadi pengaruh dari keberhasilannya. "Doa orang
tua memberikan kontribusi yang sangat luar biasa, bapak saya berpesan
seperti ini "Nak, saya tidak bisa memberikan apa-apa tapi bapak hanya
bisa berdoa semoga kamu menjadi yang terbaik, dan kamu selalu
menjalankan yang terbaik dalam setiap aktivitas," ujar Raeni seperti apa
yang selalu dikatakan bapaknya.
"Jadi prinsip saya ya Do the best for my dedication to Allah," ujarnya.
Raeni
mengaku di kampusnya aktif mengikuti kegiatan kampus, mulai dari
kelompok ilmiah, pengajar muda dan laboratorium kampus. Raeni juga
pernah dikirim untuk mengajar di Malaysia.
"Saya pernah pisah sama orang tua, dikirim untuk mengajar di Malaysia," pungkasnya.
|