Pelabuhan Bitung telah berfungsi sebagai pelabuhan impor sejak 1
Oktober 2014. Namun, berdasarkan izin impor yang diterbitkan oleh
Menteri Perdagangan, impor yang diperbolehkan hanya terbatas pada tiga
jenis barang yaitu, pakaian jadi, elektronik dan makanan.
General Manager PT Pelindo IV Bitung, Kalbar Yanto, mengatakan bahwa
izin impor itu melengkapi keberadaan Pelabuhan Bitung yang menjadi
pelabuhan ekspor beberapa waktu yang lalu. Sebagaimana dikutip dari
koran Kompas edisi Senin, 6 Oktober 2014, Kalbar mengatakan hal tersebut
di Bitung pada hari Sabtu (4/10).
Ekspor dan komoditas dari pelabuhan Bitung dilakukan PT Maersk Line
pada bulan April 2014 lalu. Tujuan kapal pengangkut barang yang berlayar
dari Bitung tersebut adalah Pelabuhan Tanjung Pelepas di Malaysia.
“Meski baru tiga jenis barang yang diizinkan impor, kami rasa cukup
untuk menjadikan Bitung sebagai pelabuhan ekspor impor yang setara
dengan Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta dan Pelabuhan Tanjung Perak,
Surabaya.” ujar Kabar.
Selain menuju ke Pelabuhan Tanjung Pelepas, menurut Kalbar, ada juga
kapal-kapal pembawa komoditas perkebunan dan perikanan yang berangkat
dari Bitung menuju ke Davao (Filipina), Guang Zhao (Tiongkok) dan
Khaosiung (Taiwan).
Kalbar juga menambahkan bahwa Pelabuhan Peti Kemas Bitung dinilai
terlalu sempit untuk bongkar muat barang dalam dan luar negeri. Daya
tampung pelabuhan container untuk sekali tumpuk hanya 3 hektar untuk
muatan 2 hektar. Untuk mengatasi keterbatasan itu, Kalbar mengatakan
bahwa pihaknya telah meminta izin untuk mereklamasi kolam pelabuhan
untuk dijadikan halaman untuk menampung kontainer seluas 2 hektar.
Penambahan luas halaman kontainer tersebut akan menjadikan proses
bongkar muat menjadi lebih leluasa.
Pelabuhan Bitung merupakan pelabuhan penting untuk Pendulum Nusantara
bagian Indonesia Timur. Bitung dinilai memiliki potensi strategis
sebagai pintu gerbang menuju negara-negara lain di benua Asia seperti
Tiongkok, Hong Kong, Singapura dan Malaysia.
Terkait ekspor, Kepala Dinas Perdagangan Sulawesi Utara, Olvie
Atteng, mengatakan bahwa Sulawesi Utara sepanjang bulan September telah
mengekspor 414 ton tepung kelapa ke 12 negara. Permintaan terbanyak
untuk tepung tersebut berasal dari Rusia yang mencapai 78 ton dengan
devisa 177,028 dollar AS. Angka ini merupakan angka yang tertinggi bila
dibandingkan dengan 11 negara tujuan ekspor lainnya seperti Jerman,
Slovenia, Brasil, Inggris, Australia dan Selandia Baru.