Kelihatannya, Indonesia bukan hanya terkenal akan pasar mobile-nya yang
besar, namun juga apapun yang berhubungan dengan sosial, e-commerce dan
games. Banyak orang yang tertarik dengan e-commerce di Indonesia, tahun
lalu adalah tahunnya e-commerce, ditandai dengan diluncurkannya lebih
dari 20 perusahaan e-commerce. Dan tentu saja banyak yang kemudian
gagal, menyisakan para pemain yang telah mapan seperti Rakuten,
TokoBagus, Plasa, Berniaga, Kemana, Tokopedia, dll.
Namun sejauh ini, belum ada yang cukup sukses di pasar yang sangat luas
dan penuh kesempatan ini. Ada beberapa masalah yang mereka hadapi dalam
menjalankan usahanya, saya akan coba membahas sebagian dari
permasalahan tersebut.
Perilaku
Pertama-tama, belanja online bukanlah sesuatu yang baru bagi orang
Indonesia yang tinggal di kota besar, mereka telah mengetahui tentang
hal ini namun entah kenapa tidak dilakukan. Mengapa? Dari hasil riset
kami baru-baru ini, sebagian besar orang Indonesia masih kurang
mempercayai situs-situs e-commerce, bukan tentang keamanan dari
berbelanja online yang tidak mereka percayai namun justru merchant-nya.
Mereka takut ditipu, selain itu kurangnya kredibilitas/reputasi yang
diberikan oleh pasar semakin memperburuk keadaan.
Sarana Pembayaran
Tahun lalu, payment gateway bisa dibilang nyaris tidak ada sama sekali.
Namun kemudian muncul Doku dan Unik, juga IndoMog yang merangkul
beberapa mitra untuk penyebaran konten. Dan juga beberapa payment
gateway muncul dari bank, carriers, dan produsen handset, tentunya akan
semakin banyak penawaran yang datang dari layanan pembayaran untuk
digunakan oleh startup. Namun kita harus menunggu dan mencoba layanan
yang sudah ada, sampai menemukan yang cocok dan bisa berjalan di
Indonesia.
Mobile
Mobile merupakan pasar yang besar di Indonesia, namun belum ada
perusahaan e-commerce yang melakukan sesuatu yang signifikan bagi para
pengguna mobile mereka, kecuali perusahaan seperti Tokobagus, yang itu
pun membutuhkan waktu lama sebelum mereka meluncurkan sebuah aplikasi
BlackBerry. Pasar para pengguna e-commerce memang ada di mobile, namun
sebagian besar e-commerce startup lebih memperhatikan situs yang diakses
dari desktop mereka dibandingkan memberikan layanan yang bagus melalui
mobile shopping. Bila ada yang bisa memecahkan masalah ini, maka hal itu
bisa menjadi standar baru untuk perkembangan e-commerce.
Sarana Logistik
Sebagian besar e-commerce startup tidak memperhatikan poin ini, “kami
hanya menyediakan pasar, bukan logistik” adalah alasan klasik yang
disampaikan, namun bila sebuah perusahaan e-commerce ingin sukses,
logistik adalah hal yang wajib. Memang benar, Anda menjalankan
perusahaan “online”, namun e-commerce tetaplah COMMERCE (perdagangan)
yang menggunakan internet. Dan salah satu bagian dari perdagangan
tersebut adalah logistik, cara mendistribusikan dan mengirimkan barang
langsung ke pembeli! Hal ini merupakan permasalahan bagi sebagian besar
perusahaan, menemukan metode operasional dari awal hingga akhir, dari
ujung ke ujung, dari mulai merambah laman mencari barang, membayar,
keamanan dan pengiriman barang.
Peraturan
Nah, ini yang menyedihkan, di saat indutri bertumbuh dengan cepat,
pemerintah Indonesia sedang merencanakan untuk menerbitkan peraturan
yang melarang siapapun menangani pengiriman uang, dan hal ini bisa
memperlambat kemajuan industri. Kami baru saja mengetahui hal ini, dan
akan menuliskannya di artikel yang lain. Pasti menarik (ya, saya
bersikap sarkastik dalam hal ini).